text.skipToContent text.skipToNavigation
background-image

Wiro Sableng Maut Bernyanyi Di Pajajaran von Tito, Bastian (eBook)

  • Verlag: Dragon Promedia
eBook (ePUB)
1,99 €
inkl. gesetzl. MwSt.
Sofort per Download lieferbar

Online verfügbar

Wiro Sableng Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Melanjutkan buku pertama Wiro Sableng, sang Pendekar Naga Geni 212 masih dalam pengejaran akan pembunuh kedua orang tuanya 17 tahun lalu, Mahesa Birawa. Untuk meladeni tantangan Bergolawungu, Pendekar 212 mencari keberadaan goa Sanggreng. Di tengah perjalanan, Wiro bertemu untuk pertama kalinya dengan Dewa Tuak dan Anggini. Dalam pertemuan itu, Dewa tuak mengungkapkan niatnya untuk menjodohkan Wiro dengan Muridnya yaitu Anggini. Dengan halus Wiro menolak dan melanjutkan perjalanan. Akan tetapi Anggini mengikutinya secara diam-diam sampai di goa Sanggreng. Setelah Wiro berhasil membasmi semua anggota komplotan Perguruan Goa Sanggreng termasuk ketuanya yaitu guru dari Bergolawungu, Wiro melanjutkan perjalanannya untuk melaksanakan misi utamanya yaitu mencari Mahesa Birawa. Dalam perjalanan wiro memergoki Anggini yang membuntutinya. Dalam pertemuan itu, keduanya sempat memadu kasih. Akhirnya Wiro berhasil menemukan jejak Mahesa Birawa di satu perkemahan komplotan pemberontak terhadap kerajaan Pajajaran. Dalam pertemuan itu wiro melontarkan tantangannya dan menunggu mahesa birawa di pekuburan jatiwalu. Namun mahesa birawa tidak mengindahkan tantangannya. Mahesa birawa lebih memilih berangkat melakukan penyerangan bersama rombongan pemberontak. Wiro pun kemudian ikut terjun dalam pertempuran antara rombongan pemberontak dengan rombongan prajurit pajajaran.

Produktinformationen

    Format: ePUB
    Kopierschutz: AdobeDRM
    Seitenzahl: 128
    Sprache: Deutsch
    ISBN: 6610000030910
    Verlag: Dragon Promedia
    Größe: 180kBytes
Weiterlesen weniger lesen

Wiro Sableng Maut Bernyanyi Di Pajajaran

D i bawah terik panasnya matahari di siang bolong itu maka bertiuplah angin kencang dan gersang. Debu pasir di pedataran beterbangan ke udara, memekat tebal, menutup pemandangan beberapa saat lamanya.

Suara siulan aneh yang melengking-lengking membawakan lagu tak menentu terdengar di lereng bukit di ujung pedataran. Siulan aneh ini seperti mau menerpa dan menumbangkan hembusan angin gersang yang datang dari pedataran. Tiba-tiba sekali suara siulan aneh ini terhenti! Sebagai gantinya mengumandangkan suara tertawa mengekeh di seantero bukit.

Pemuda berpakaian putih yang ada di puncak bukit saat itu memandang ke samping. Sebelum jelas telinganya menangkap suara tertawa tadi sejenis cairan harum telah melesat ke arahnya. Kalau saja dia tidak cepat-cepat melompat ke belakang pastilah sebagian mukanya kena disambar cairan itu. Cairan yang tak mengenai si pemuda baju putih rambut gondrong ini menghatam pohon besar. Bukan olah-olah hebatnya semburan cairan aneh tadi itu!....

Si pemuda sendiri kejutnya bukan kepalang. Baru saja setengah harian berjalan tahutahu sudah ada orang lain yang inginkan nyawanya! Dia memandang ke arah datangnya semburan cairan aneh tadi. Baru saja dia palingkan kepala mendadak dari atas menderulah ratusan tetes cairan tadi laksana air hujan yang deras ditiup badai!

Pemuda itu berseru nyaring dan hantamkan tangan kanannya ke atas. Ratusan tetes cairan itu muncrat kembali ke atas dan ratusan lagi menyibak ke samping. Daun-daun pohon tembus berlubang-lubang sedang batang-batang kayu seperti kena tusukan paku! Gelak mengekeh menggema lagi di seantero puncak bukit. Anehnya si pemuda belum juga dapat mencari dengan matanya, manusia yang telah mengeluarkan suara tertawa itu. Padahal jelas dekat sekali kedengarannya. Hatinya penasaran sekali. Sambil garuk kepala dia memandang berkeliling. Kedua matanya kemudian tertuju lekat-lekat pada sebatang pohon raksasa yang tinggi menjulang ke langit, mungkin lebih dari tiga puluh meter tingginya. Suara tertawa itu datang dari atas pohon tapi orangnya masih tak kelihatan. Mungkin tertutup oleh daun-daun pohon yang lebarlebar dan lebat.

"Manusia di atas pohon!," bentak pemuda itu:

"Kalau berani buka urusan, berani unjuk diri!" Sehabis berkata begitu pemuda itu pukulkan telapak tangan kanannya ke atas. Serangkum angin yang dahsyatnya laksana topan melanda pohon raksasa itu. Ranting dan cabang berpatahan. Daun-daun berguguran. Hampir sekejapan mata saja maka pohon raksasa yang menjulang ke langit itu sudah menjadi ranggas gundul! Dan di puncak batang pohon yang masih utuh kelihatanlah duduk seorang laki-laki tua berselempang kain putih. Karena tingginya pohon itu tampangnya tak kentara betul. Tapi jenggotnya yang panjang sampai ke dada dilihat jelas berkibar-kibar ditiup angin gersang dari pedataran. Pada pangkuannya ada sebuah bumbung bambu yang panjangnya sekira satu meter. Bumbung bambu seperti itu masih ada satu iagi tergantung di belakang punggungnya. Dan kedua bumbung bambu itu berisi tuak murni yang harum sekali dan lezat rasanya. Tuak itulah tadi yang telah disemburkannya kepada pemuda yang di bawah pohon! Pukulan tangan kosong si pemuda yang telah meluruhkan cabang-cabang dan daun-daun pohon mau tak mau akan membuat mental si orang tua berjanggut putih diatap pohon. Sekurangkurangnya akan membuat terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi anehnya saat itu si janggut putih tetap saja duduk enak-enak berpangku kaki di puncak pohon yang gundul itu, bahkan sambil meneguk tuaknya dan tertawa-tawa, seakan-akan tak ada terjadi apa-apa! Bukan main geramnya pemuda itu. Tapi untuk bertindak gegabah dia tidak mau. Manusia tua di puncak pohon tinggi berjanggut putih dengan dua buah bumbung tuak itu pernah diceritakan oleh gurunya waktu dia masih di puncak Gunung Gede. Dia adalah seorang pendekar sakti dari empat puluh tahun yang lalu jarang memperlihatkan

Weiterlesen weniger lesen

Kundenbewertungen